Selasa, 25 Februari 2014

antara dua sisi @dr_tompi

Menikmati lagu-lagunya seakan mendengar seseorang yang sedang bermain-main dengan nada. Penggabungan unsur pop, jazz, funk, hip hop, dan soul membuat nada-nada tersusun apik dan dinamis menunjukkan karakter ceria penciptanya. Namun ternyata penyanyi berperawakan sedang ini juga bisa menjadi sangat serius saat sedang menjalankan satu sisi hidupnya yang lain. Ia bak tak mau diusik peran selebritasnya, terutama saat sedang menelusuri lorong-lorong rumah sakit sebagai dokter yang mengambil studi spesialis di bidang bedah plastik.
Jangan heran jika bertemu penyuka mie Aceh dan es teler ini sedang menunjukkan muka jutek
ketika berada di balik jas putihnya. Tampak jelas berbeda dengan pembawaannya yang ringan dan friendly di panggung hiburan. Saat itu pasti pelantun tembang “Sedari Dulu” ini sedang tak mau diusik, apalagi melakonkan sisi selebritasnya. “Kalau saya lagi kerja di rumah sakit, orang awam terkadang menuntut saya untuk bersikap seperti yang terlihat di teve, harus ramah atau menunjukkan semua hal yang positif dari saya. Padahal saya manusia biasa yang juga bisa merasakan lelah, atau kesal, sehingga berpengaruh secara psikologis. Jadi saya tak bisa manis ke semua orang, malahan saya sering terlihat jutek!” aku penyanyi yang memiliki nama asli Teuku Adifitrian ini.
Bisa dipahami, sebagai seorang dokter yang sedang mengambil studi spesialis di jurusan Kedokteran, tugas-tugas yang diterima pastilah tidak mudah. Apalagi ditambah dengan tugas-tugas keartisan yang sering menuntutnya untuk melupakan saat-saat beristirahat. Saat sedang lelah dan tegang, tiba-tiba ada penggemar yang memintanya menyanyi atau berfoto bersama di tempat yang tidak semestinya, tentu saja ini dapat mengusik hatinya.
“Waktu di rumah sakit, saya juga harus menghormati lingkungan saya. Menghormati konsulen saya, dosen serta teman-teman sejawat saya, juga harus menghormati orang-orang yang sedang sekarat di sana. Sehingga tidak tepat saja jika saya melayani penggemar saya di sana,” ucapnya tegas. Hal ini kadang menyisakan perasaan bersalah di benak dokter yang memilih bedah plastik, karena masih ada hubungannya dengan seni ini. Ia berjanji untuk memberi pengertian kepada para penggemarnya agar dapat memahami perannya saat itu. “Saya minta maaf pada para penggemar, dan mohon pengertiannya. Jika melihat saya sedang memakai baju dokter, berarti saya sedang tidak mau diganggu,” ujarnya dengan mimik serius.
Namun benarkah Tompi seorang yang seserius perannya di balik jas putih? “Saya ini serius, tapi juga kekanak-kanakkan. Saya suka sekali anak kecil,” ucap penyuka Ella Fitzgerald ini jujur. Seakan ada dua sisi yang berpadu di dirinya. Hal ini tampak dari lagu-lagunya yang playfull dan ceria. Coba saja simak lagu anak-anak “Balonku” yang telah diaransemen ulang, atau sisi cinta komedi yang tampak jelas pada lagu “Lulu dan Siti” dalam album Playfull. Menurut Tompi, dunia musik yang digelutinya merupakan kompensasi dari dunia kedokteran yang serius. Sehingga kedua dunia ini menciptakan keseimbangan satu dengan yang lain dalam dirinya.
Walau sibuk, namun musisi yang kerap bertopi fedora ini cukup produktif. Tompi mengaku jarang keluar untuk sekedar hangout bersama teman-temannya sesama dokter di saat-saat luang. Waktunya lebih banyak dilakukan untuk mengutak-utik laptop-nya menciptakan satu dua lagu. “Kadang jika sedang tak ada pasien di kamar jaga, saya mengerjakan satu lagu, baru tidur. Bahkan di album terakhir, saya baru take vocal sekitar jam 2-3 pagi,” kata anak kedua dari empat bersaudara ini. Ide membuat lagu, menurutnya, bisa datang dari mana saja. Dari cerita teman, film, lagu lain, atau bahkan kisah pribadi. Hanya ia tak pernah mencontek mentah-mentah kisah pribadinya ke lagu. “Bisa bahaya!” kata pencinta semua album Stevie Wonder ini sembari tersenyum.
Masih naik turun
Putra Teuku Zulkifli dan Safura yang lahir di Lhokseumawe, Aceh, tigapuluh tahun lalu ini baru pindah ke Jakarta saat melanjutkan sekolah ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1997. Ia merasa pendidikan agama yang didapatnya di Aceh sangat ketat, berbeda dengan apa yang dihadapinya di sini. Menurutnya, nilai-nilai yang ada di dunia artis sangat longgar. “Godaannya besar sekali. Semua kenikmatan dunia itu ada di Jakarta. Jika iman kita sedang turun, mudah sekali terbawa. Untungnya saya tidak suka minum [alkohol-red] dan merokok, sehingga tidak merasa perlu ikut teman-teman sesama musisi ngumpul di café. Kerasnya pendidikan agama yang saya terima di Aceh juga ikut membentengi diri saya,” ucap Tompi.
Meski mengaku imannya masih naik turun, namun sebagai seorang dokter yang kerap menghadapi pasien yang kritis – bahkan meninggal – ia merasa terus menerus diingatkan, “Peristiwa itu seperti warning buat saya. Bahwa kita bisa kapan saja mengalami hal itu.” Selain itu kehadiran putranya pada November tahun lalu juga jadi benteng rohani yang paling besar baginya. Ia tak mau si kecil mengikuti jejaknya jika ia berbuat hal-hal yang kurang baik.
Untuk tetap bisa menjaga imannya, ia menggunakan Ramadhan ini sebagai sarana evaluasi dan perenungan sehingga bisa terus menerus memperbaiki diri. Tompi juga merasa terbantu dengan adanya momen saling memaafkan di Hari Raya ‘Idul Fitri. “Saya memang bukan tipe pendendam, tapi kalau punya masalah dengan orang lain, katakanlah sampai sakit hati atau kecewa karena dikhianati, saat dimintai maaf, rasanya gimana gitu. Tapi saat Lebaran, rasanya memaafkan siapa saja menjadi lebih tulus,” akunya.
Tompi mengaku kali ini tak mengeluarkan album bernuansa rohani seperti Soulful Ramadhan, yang pernah dibuatnya pada bulan puasa tiga tahun lalu. “Membuat lagu religi bukan main-main buat saya. Beban morilnya berat. Dan bagi saya itu bukan sebagai sarana untuk mencari uang. Jadi saya tak mau terjebak dari sisi bisnis album religi. Sehingga kalau saya nanti membuat lagi album religi, insya Allah niatnya adalah untuk ibadah. Âmîn.” jelas penyanyi yang baru merilis album My Happy Life ini.

Minggu, 23 Februari 2014

Modal Music Jazz

Modal Music Jazz adalah jazz yang dimainkan menggunakan mode musikal dibanding pergerakan chord . Ketika musis berbicara tentang cara atau mode dalam jazz , mereka seringkali mengartikan berdasar tujuh modes (seven modes based) dalam skala major. Saya lebih suka untuk memperlakukan tiap mode tetap dalam posisinya Biarpun dalam mengenal konsep ini tidak salah untuk mengambil skala mayor dan memainkan tiap not dalam pergerakan mode tonic . Cara yang digunakan Modal Jazz tapi pemahaman tentang mode seringkali dapat juga membantu belajar improvise perubahan chord . Penting untuk memahami pendekatan ini hanya dapat digunakan sebagai awal untuk belajar improvisasi melodi .
Pemahaman mengenai modal jazz membutuhka pemahaman pengetahuan dari mode musikal . Mode adalah skala ketujuh yang digunakan dipertengahan musik tapi kembali digunakan oleh komposer seperti Claude Debussy dan sering juga digunakan komposer abad 20 . Pada be-bop seperti juga pada hard bop musisinya menggunakan chords untuk menampilkan background mendampingi solois . Sebuah lagu dapat saja mulai dengan tema yang menggambarkan pengenalan chords yang digunakan solois . Chords ini dapat berulang diseluruh lagu ketika solois akan memainkan bagiannya . Di 1950an improvisasi bersama chords menjadi sesuatu bagian yang dominan dari jazz pemain pemain tambahan direkaman tersebut menambahi tapi tidak lebih dari bentuk chords yang sudah direncanakan untuk dimainkan . Mengkreasikan perubahan solos menjadi lebih extra sulit .
Diakhir 1950 musisis bingung atau frustasi dengan chords yang berulang mencoba dengan pendekatan modal (yang berhubungan dengan perasaan) . Mereka tidak menulis lagu menggunaka chords tapi malah menggunakan skala modal . Ini berarti bassis sebagai contoh (instance) tidak harus bergerak dari satu not penting dalam chord ke not yang lain - selama mereka tetap pada skala yang digunakan dan mementingkan not yang benar dalam skalanya mereka sebenarnya dapat bergerak kemana saja . Pianis sebagai contoh yang lain tidak harus memaikan chord atau variasi chordnya tapi bisa melakukan apa saja selama dia tetap pada skala yang digunakan . Solois juga punya keleluasaan improvisasi .
Pada kenyataannya cara yang diambil solois mengkreasikan perubahan perubahan solonya secara dramatik dimulai sejak kedatangan modal jazz . Sebelumnya tujuan solois bermain solo untuk mengepaskan dengan set chordnya . Bagaimanapun dalam modal jazz solois harus mengkreasikan melodi dalam satu chord yang mungkin potensial menjadi membosankan bagi pendengarnya . Oleh karena itu tujuan musisinya membuat melodi sama menariknya . Modal jazz dalam esensinya adalah kembali kemelodi .
Hal yang penting untuk diketahui adalah kesempatan bassis dan pianis untuk bergerak pada not diskala yang tidak cocok dengan chord utama dari skalanya . Sebagai contoh dalam skala Ionian C adalah not utama . Not yang lain sebagai contoh B tidak cocok dimainkan dengan C ini tidak mungkin digunakan diluar lagu modal jazz yang ditulis dalam C ketika memainkan chord C . Dalam lagu modal itu mungkin yang berarti not yang dimainkan tidak dikenali sebagai bagian dari C mayor .
Di modal jazz komposisi yang pentingadalah "So What" oleh Miles Davis dan "Impressions" dari John Coltrane . Kedua komposisi ini dimainkan dalan cara Dorian yang berarti dimainkan minor . Keduanya sama sama menggunakan bentuk AABA dan pada D dorian untuk bagian A dan memodulasikan naik setengah ke Eb Dorian untuk bagian B nya . Di album King of Blue nya Miles Davis satu yang dapat dipandang sebagai explorasi modal jazz Ini album yang penting dan menonjol serta album jazz klasik .
Improvisasi dalam konteks modal salah satu pemusiknya harus memulainya dalam skala yan spesifik sebagai contoh dalam D dorian: D, E, F, G, A, B, C, D . Tapi satu yang harus diingat adalah kemungkinan untuk mengambil sejumlah not dari skalanya (dan tidak semua) untuk mengkreasikan dalam skala yang lebih kecil atau pilihan dalam berimprovisasi
Sebagai contoh dalam D dorian salah satu harus memainkan not dari D minor triad (tiga serangkai) (Dalam kenyataannya ini adalah yang dilakukaan Miles diimprovisasinya (to begin with?)) atau salah satu musisinya konsisten memakai triads yang ada dimodanya. (C maj, Dmin, Emin dll.) . Yang pasti adalah jikalau anda atau musisi memilih triad yang upper structure triad (struktur diatasnya atau lebih tinggi) dari chordnya musisi akan mendapat tekanan lebih disana . Musisi mungkin juga menggunakan banyak pentatonic yang berbeda dalam skalanya seperti C major pentatonik F major pentatonik dan G major pentatonik . (Not yang agak tidak harmonis seperti A minor D minor dan E minor pentatonik dimainkan berturut turut) . Sebagai pilihan itu tampak seperti batas not yang dapat meluaskan pilihan improvisasi untuk pemain dalam pendekatan modal jazz .

@dr_tompi

Teuku Adifitrian atau lebih dikenal dengan nama Tompi (lahir di Lhokseumawe, Aceh, 22 September 1978; umur 35 tahun) adalah penyanyi jazz dan pembawa acara Indonesia. Ia dikenal melalui album Bali Lounge dan juga solo album-nya.
Lahir dan besar di Lhokseumawe Aceh, karakter vokalnya dipengaruhi oleh nyanyian tradisional Aceh dan mengaji Al-Qur'an. Selain menyanyi, dia adalah seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan telah meraih gelar spesialis bedah plastik juga dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tahun 2010. Ia merilis albumnya bersama penyanyi Alda Rizma Elfariani. Baginya, bernyanyi bukanlah sebuah alih profesi, melainkan sidejob yang menyenangkan[1].
Tompi.jpg
Nama lahir Teuku Adifitrian
Lahir 22 September 1978 (umur 35)
Bendera Indonesia Lhokseumawe, Indonesia
Pekerjaan Penyanyi, pembawa acara, dokter
Pasangan Arti Indira
Anak Teuku Omar Dakari
Alma mater Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (selesai;2010)