Jangan heran jika bertemu penyuka mie Aceh dan es teler ini sedang menunjukkan muka jutek
ketika berada di balik jas putihnya. Tampak jelas berbeda dengan pembawaannya yang ringan dan friendly di panggung hiburan. Saat itu pasti pelantun tembang “Sedari Dulu” ini sedang tak mau diusik, apalagi melakonkan sisi selebritasnya. “Kalau saya lagi kerja di rumah sakit, orang awam terkadang menuntut saya untuk bersikap seperti yang terlihat di teve, harus ramah atau menunjukkan semua hal yang positif dari saya. Padahal saya manusia biasa yang juga bisa merasakan lelah, atau kesal, sehingga berpengaruh secara psikologis. Jadi saya tak bisa manis ke semua orang, malahan saya sering terlihat jutek!” aku penyanyi yang memiliki nama asli Teuku Adifitrian ini.
Bisa dipahami, sebagai seorang dokter yang sedang mengambil studi spesialis di jurusan Kedokteran, tugas-tugas yang diterima pastilah tidak mudah. Apalagi ditambah dengan tugas-tugas keartisan yang sering menuntutnya untuk melupakan saat-saat beristirahat. Saat sedang lelah dan tegang, tiba-tiba ada penggemar yang memintanya menyanyi atau berfoto bersama di tempat yang tidak semestinya, tentu saja ini dapat mengusik hatinya.
“Waktu di rumah sakit, saya juga harus menghormati lingkungan saya. Menghormati konsulen saya, dosen serta teman-teman sejawat saya, juga harus menghormati orang-orang yang sedang sekarat di sana. Sehingga tidak tepat saja jika saya melayani penggemar saya di sana,” ucapnya tegas. Hal ini kadang menyisakan perasaan bersalah di benak dokter yang memilih bedah plastik, karena masih ada hubungannya dengan seni ini. Ia berjanji untuk memberi pengertian kepada para penggemarnya agar dapat memahami perannya saat itu. “Saya minta maaf pada para penggemar, dan mohon pengertiannya. Jika melihat saya sedang memakai baju dokter, berarti saya sedang tidak mau diganggu,” ujarnya dengan mimik serius.
Namun benarkah Tompi seorang yang seserius perannya di balik jas putih? “Saya ini serius, tapi juga kekanak-kanakkan. Saya suka sekali anak kecil,” ucap penyuka Ella Fitzgerald ini jujur. Seakan ada dua sisi yang berpadu di dirinya. Hal ini tampak dari lagu-lagunya yang playfull dan ceria. Coba saja simak lagu anak-anak “Balonku” yang telah diaransemen ulang, atau sisi cinta komedi yang tampak jelas pada lagu “Lulu dan Siti” dalam album Playfull. Menurut Tompi, dunia musik yang digelutinya merupakan kompensasi dari dunia kedokteran yang serius. Sehingga kedua dunia ini menciptakan keseimbangan satu dengan yang lain dalam dirinya.
Walau sibuk, namun musisi yang kerap bertopi fedora ini cukup produktif. Tompi mengaku jarang keluar untuk sekedar hangout bersama teman-temannya sesama dokter di saat-saat luang. Waktunya lebih banyak dilakukan untuk mengutak-utik laptop-nya menciptakan satu dua lagu. “Kadang jika sedang tak ada pasien di kamar jaga, saya mengerjakan satu lagu, baru tidur. Bahkan di album terakhir, saya baru take vocal sekitar jam 2-3 pagi,” kata anak kedua dari empat bersaudara ini. Ide membuat lagu, menurutnya, bisa datang dari mana saja. Dari cerita teman, film, lagu lain, atau bahkan kisah pribadi. Hanya ia tak pernah mencontek mentah-mentah kisah pribadinya ke lagu. “Bisa bahaya!” kata pencinta semua album Stevie Wonder ini sembari tersenyum.
Masih naik turun
Meski mengaku imannya masih naik turun, namun sebagai seorang dokter yang kerap menghadapi pasien yang kritis – bahkan meninggal – ia merasa terus menerus diingatkan, “Peristiwa itu seperti warning buat saya. Bahwa kita bisa kapan saja mengalami hal itu.” Selain itu kehadiran putranya pada November tahun lalu juga jadi benteng rohani yang paling besar baginya. Ia tak mau si kecil mengikuti jejaknya jika ia berbuat hal-hal yang kurang baik.
Untuk tetap bisa menjaga imannya, ia menggunakan Ramadhan ini sebagai sarana evaluasi dan perenungan sehingga bisa terus menerus memperbaiki diri. Tompi juga merasa terbantu dengan adanya momen saling memaafkan di Hari Raya ‘Idul Fitri. “Saya memang bukan tipe pendendam, tapi kalau punya masalah dengan orang lain, katakanlah sampai sakit hati atau kecewa karena dikhianati, saat dimintai maaf, rasanya gimana gitu. Tapi saat Lebaran, rasanya memaafkan siapa saja menjadi lebih tulus,” akunya.
Tompi mengaku kali ini tak mengeluarkan album bernuansa rohani seperti Soulful Ramadhan, yang pernah dibuatnya pada bulan puasa tiga tahun lalu. “Membuat lagu religi bukan main-main buat saya. Beban morilnya berat. Dan bagi saya itu bukan sebagai sarana untuk mencari uang. Jadi saya tak mau terjebak dari sisi bisnis album religi. Sehingga kalau saya nanti membuat lagi album religi, insya Allah niatnya adalah untuk ibadah. Âmîn.” jelas penyanyi yang baru merilis album My Happy Life ini.